SHARE 4

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Rumah tradisional atau rumah adat adalah merupakan aktualisasi diri yang di wujudkan dalam bentuk kreativitas dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya (Budihardjo, 1994:57). Selain itu rumah adalah cerminan diri, yang disebut Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring Function”, kesuksesan seseorang tercermin dari rumah dan lingkungan tempat huniannya. Rumah Adat adalah bangunan yang memiliki cirikhas khusus, digunakan untuk tempat hunian oleh suatu suku bangsa tertentu. Rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan rumah adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan, dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban.

Indonesia terdiri dari banyak suku, dimana setiap suku memiliki kebudayaan yang berbeda sehingga menghasilkan hasil karya yang berbeda-beda, dalam hal ini rumah tradisioal. Rumah tradisional umumnya menggunakan material sederhana yang didapat dari alam sekitar. Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia semakin berkembang, kegiatan dan aktivitas manusia semakin bertambah. Sehingga rumah-rumah tradisional tidak lagi cocok untuk menampung kegiatan manusia. Selain itu perkembangan zaman membawa perkembangan teknologi dalam hal ini material dan teknik membangun semakin berkembang, banyak material –material baru yang modern dan tahan lama bermunculan, sehingga bahan-bahan yang ada tidak cocok untuk diaplikasikan ada rumah tradisional. Selain itu, material alami yang sering dipergunakan pada rumah tradisional, seperti kayu saat ini sudah susah didapat dan berharga tinggi.

Hal-hal di atas menyebabkan terjadinya perkembangan pada rumah tradisional, dimana rumah tradisional mulai dibuat agar dapat beradaptasi mewadahi aktivitas manusia yang semakin berkembang dan material modern bangunan yang ada saat ini. Hasil dari pengadaptasian rumah tradisional tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pada gaya arsitektur rumah tradisional baik dari segi bentuk, fungsi ruang, tampilan hingga material yang digunakan. Hal tersebut menghasilkan perpaduan rumah tradisional dengan arsitektur modern sehingga menghasilkan gaya baru yang disebut arsitektur masa kini. Berdasarkan paaran diatas penulis memilih judul “Arsitektur Masa Kini Rumah Limas (Sumatera Selatan)” sebagai judul tugas.

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, didapat beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:

  1. Bagaimana arsitektur Rumah Limas masa kini?
  2. Apa saja perbedaan dan bagian yang berubah pada arsitektur Rumah Limas tradisional dengan arsitektur Rumah Limas masa kini?

 

  • Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui keadaan rumah tradisional khususnya Rumah Limas di masa kini.
  2. Untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada arsitektur Rumah Limas dari dulu hingga saat ini.
  3. Untuk mengetahui penyebab perubahan pada rumah Limas

 

  • Manfaat Penulisan

Manfaat yang didapat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi penuis

Dapat menyelesaikan tugas untuk mata kuliah Arsitektur Indonesia. Selain itu dapat mengetahui wujud arsitektur tradisional rumah adat yang ada di Sumatera Selatan dan DKI Jakarta serta mengetahui keadaannya pada masa kini. Mendapatkan pengetahuan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada rumah adat tersebut di masa kini.

 

 

 

  1. Bagi Pembaca

Mendapatkan informasi secara langsung dari akalah ini mengenai arsitektur tradisional rumah adat yang ada di Sumatera Selatan dan DKI Jakarta serta mengetahui keadaannya pada masa kini. Mendapatkan pengetahuan mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada rumah adat tersebut di masa kini.

  • Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu metode pengumpulan data mengenai objek yang dibahas dari studi literatur melalui media elektronik. Data yang didapat kemudian dipilah sebagai bahan dasar penyusunan makalah. Kemudian data penting yang didapat disusun kembali dengan teknik deskriptif. Dimana objek yang dibahas dideskripsikan dan dianalisa sesuai dengan gambar yang didapat.

 

  • Sistematika Penulisan

            Penyusunan Laporan dibuat secara sistematis dengan menggunakan bab yang terdiri dari :

            Bab I. Pendahuluan

Merupakan gambaran umum dari isi laporan secara keseluruhan, yang memuat latar belakang penyusunan makalah mengenai Arsitektur Masa Kini Rumah Limas. Juga terdiri atas rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah, tujuan dan sasaran, metode penulisan, serta sistematika penulisan.

Bab II. Pembahasan

Pada bab ini akan dibahas mengenai objek yang digunakan sebagai bahan makalah yaitu Rumah Limas. Dimana keadaan objek di masa kini dan perubahan-perubahannya dari dulu hingga saat ini akan dibahas secara mendetail.

Bab III. Penutup

Pada bab ini berisi kesimpulan dari keseluruhan makalah yang merupakan jawaban dari rumusan masalah. Selain itu pada bab ini juga berisi saran yang disampaikan penulis.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kondisi Arsitektur Rumah Limas Masa Kini

            Rumah Limas merupakan rumah adat provinsi Sumatera Seatan. Rumah Limas berasal dari dua suku kata yaitu Lima dan Emas. Bentuk Rumah Limas sama seperti namanya yaitu berbentuk menyerupai piramida terpenggal (limasan). Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan, yaitu Rumah Limas dengan lantai sejajar yang biasanya disebut rumah ulu. Rumah Limas yang kedua berupa rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda / bertingkat-tingkat (bengkilas), dengan filosofi lima tingkatan atau jenjang kehidupan bermasyarakat. Bentuk Rumah Limas berupa rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang dipancang hingga ke dalam tanah.

Bangunan rumah limas biasanya berbentuk persegi panjang yang memanjang kearah belakang. Arah orientasi Rumah Limas ke timur dan barat atau dalam falsafah disebut menghadap ke arah Matoari Eedoop dan Mato Ari Mati. Arti dari kata Matoari Eedoop adalah matahari terbit yang memiliki makna filosofi “awal mula kehidupan manusia” dan Mato Ari Mati matahari tenggelam yang memiliki makna filosofi “akhir kehidupan manusia atau kematian”. Material dari Rumah Limas berupa kayu Tembesu.

Seiring berkembangnya zaman, kehidupan masyarakat Palembang berjalan ke arah yang lebih modern dan maju. Dimana perkembangan teknologi dan bahan material bangunan serta sulitnya mencari bahan-bahan kayu menyebabkan Rumah Limas mengalami perubahan dari segi material. Selain itu, perubahan Rumah Limas dapat dilihat dari bentuknya, materialnya, tatanan ruang serta posisi dimana rumah Limas didirikan. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan mahalnya harga lahan di Palembang, bentuk dan dimensi rumah limas dimodifikasi agar menjadi lebih kecil.

2.1.1 Tatanan Ruang Rumah Limas Palembang Masa Kini

Rumah Limas Palembang mengaami transformasi dari segi tatanan ruang yaitu Ruah Limas yang dulu memiliki kekijing atau perbedaan tingkatan pada rumah limas. Pada rumah Limas masa kini sudah jarang ditemui kekijing atau perbedaan tingkatan pada rumah limas. Kebanyakan rumah imas masa kini memiliki lantai yang datar tanpa tingkatan-tingkatan. Selain itu tatanan ruang pada rumah limas masa kini lebih mengakomodasi aktivitas dari pemilik rumah.

Untitled1

 

Gambar 2.1 Rumah Tradisional Limas Sumatera Selatan                                             Sumber : http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan
Untitled2
Gambar 2.2 Rumah Limas Masa Kini                                               Sumber : http://googleimages.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kekjing yang dipergunakan untuk menerima banyak tamu saat mengadakan ritual adat sudah tidak lagi ada pada rumah limas masa kini. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat Palembang sudah jarang melakuka ritual adat seperti dulu. Selain itu kekijing yang memiliki dimensi yangbesar sudah tidak mampu lagi dibangun oleh seluruh masyarakat Palembang karena luas lahan yang terbatas dan harga lahan yang semakin mahal.

 

2.1.2 Fungsi Ruang pada Rumah Limas Palembang Masa Kini

Transformasi fungsi ruang pada Rumah Limas masa kini dapat dilihat dari pemanfaatan bagian kolong Rumah Limas, dimana tempat tiang-tiang penopang rumah berada. Rumah Limas memiliki bentuk panggung untuk mengadaptasi kondisi geografis Palembang yang memiliki banyak sungai dan rawa sehingga sering terjadi banjir. Namun, seiring berjalannya waktu, lingkungan perairan sungai dan rawa di Palembang justru semakin menyempit. Rumah- rumah limas yang tadinya berdiri bebas di tengah rawa atau di atas sungai akhirnya dikepung perkampungan. Banjir tidak lagi sering terjadi akibat debit air sungai yang mengecil, sehingga bagian kolong Rumah Limas tidak lagi berfungsi.

Berdasarkan hal tersebut, kolong pada Rumah Limas dimanfaatkan sebagai ruangan oleh para pemilik rumah, baik ruang untuk aktivitas pemilik rumah maupun toko-toko. Harga lahan yang semaki mahal juga menjadi salah satu faktor bagian kolong rumah limas difungsikan agar tidak membuang ruang yang ada.

Untitled3

Gambar 2.3 Bagian Kolong Rumah Limas Masa Kini yang Dimanfaatkan                                         Sumber:http://images.detik.com/content/2012/07/17/1383/153340_okilimastaufik.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selan bagian kolong Rumah Limas yang mengalami transformasi, fungsi-fungsi ruang di bagian dalam juga mengalami perubahan. Contohnya bagian kekijing yang digunakan sebagai ruang tamu untuk menjamu tamu saat upacara adat berubah fungsi. Karena udah jarang mengadakan upacara adat, kekijing tersebut diberi sekat-sekat dan difungsikan sebagai ruang tidur dan ruang tamu.

Seiring berkembangnya aktivitas warga di Sumatera Selatan, Arsitektur Rumah Limas tidak hanya difungsikan sebagai rumah atau tempat tinggal, tetapi juga sebagai museum dan kantor-kantor di provinsi Sumatera Selatan. Hal tersebut membuktikan pergeseran fungsi pada rumah limas dari tempat tinggal menjadi fasilitas umum.

 

2.1.3 Bentuk Rumah Limas Palembang Masa Kini

Bentuk Rumah Limas berupa rumah panggung yang memiliki luasan ruang yang sangat besar berkisar antara 400 – 1000 m2. Rumah Limas berbentuk persegi panjang dimana bagian memanjang ke arah belakang. Arah orientasi Rumah Limas ke timur dan barat atau dalam falsafah disebut menghadap ke arah Matoari Eedoop dan Mato Ari Mati. Yang berarti matahari terbit dan tenggelam. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, lahan yang tersedia di Palembang semakin terbatas dan harga lahan semakin mahal. Sedangkan luasan rumah limas sangat besar. Hal tersebut menyebabkan saat ini pembangunan Rumah Limas Sumatera Selatan jarang dilakukan karena membutuhkan biaya yang besar.

thumb.php

 

 

 

 

 

Gambar 2.4 Model Rumah Limas yang Telah Dipotong dan Dimodifikasi                                             Sumber : http://apps.angkasapura2.co.id/AE_INFORMATION/AE_INFORMATION_PUBLIC_FILES/facilityImages/Rumah_Adat_-_Rumah_Limas_Potong_17_03_2015__10_30_27.jpg

 

 

 

Berdasarkan hal tersebut, pembangunan rumah limas disiasati dengan cara memotong rumah limas, sehingga didapat luasan yang lebih kecil. Pemotongan Rumah Limas tentunya mempengaruhi ruang-ruang yang terdaat di dalamnya. Sehingga rumah limas yang berukuran kecil hanya menampung ruang-ruang aktivitas pokok dari pemilik rumah seperti ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Rumah Limas yang menggunakan material kayu tidak memiliki kamar mandi di daamnya karena zaman dulu masyarakat mandi di aliran sungai. Tetapi di zaman modern Rumah Limas kayu memiliki kamar mand yang terpiah di bagian luar. Selain itu Rumah Limas sudah mulai dibuat dengan material yang lebih tahan lama seperti beton, sehingga dapat diisi kamar mandi di dalamnya.

Selain perubahan dimensi pada Rumah Limas masa kini, terjadi perubahan lain pada Rumah Limas yaitu ketinggian pada bagian kolong rumah yang dibuat rendah. Karena sudah tidak pernah terjadi banjir akibat mengecilnya debit air sungai, kolong rumah limas dibuat rendah untuk menghemat bahan dan mengefisienkan ruang.

Untitled4

 

Gambar 2.5 Model Rumah Limas yang Mamiiki Kolong Rendah                         Sumber : http://www.rumahkayu.info/wp-content/uploads/2013/10/rumah-kayu-lampung.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemajuan jaman membawa kemajuan teknologi, dimana budaya antardaerah hingga Negara dengan mudahnya dapat saling bertukar dan berakulturasi, sehingga menghasilkan gaya yang baru dan unik. Indonesia merupakan salah satu Negara yang pernah dijajah oleh Belanda. Hal tersebut mempengaruhi arsitektur Indonesia, dimana banyak arsitektur Indonesia yang mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Salahsatunya Rumah Limas, Rumah Limas masa kini banyak yang mengadaptasi gaya arsitektur Eropa khususnya Belanda. Mulai dari penggunaan jendela bergaya Belanda, bentuk tangga yang dulunya membelah (dua buah) menjadi hanya memiliki satu tangga lebar di bagian depan, hingga ornament-ornamen khas Belanda yang melekat pada bangunan.

 

Untitled 5

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.6 Model Rumah Limas yang Mengadaptasi Arsitektur Belanda                                   Sumber : https://nalatrisudapradnyani.files.wordpress.com/2015/06/d2db4-31299569.jpg
Untitled6
Gambar 2.7 Tangga yang Dimodifikasi pada Rumah Limas Masa Kini                                 Sumber : https://nalatrisudapradnyani.files.wordpress.com/2015/06/577f3-rumah2blimas2bsumatera2bselatan.jpg 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.4 Material Rumah Limas Masa Kini

Rumah Limas menggunakan material berbahan kayu, mulai dari kolom yang menggunakan balok kayu, dinding dan lantai yang menggunaan papan kayu, hingga bukaannya menggunakan bahan kayu. Jenis kayu yang digunakan yaitu kayu tembesi, merbau dan bengkirai yang merupakan tipe kayu besi yang tahan terhadap cuaca dan air. Lambat laun jumlah kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku membuat Rumah Limas jumlahnya semakin sedikit. Sehingga harga kayu melonjak mahal dan hal tersebut menjadi kendala dalam pembuatan rumah limas.

Perkembangan zaman membawa pula perkembangan di berbagai bidang, salah satunya bidang Teknologi. Kemajuan di bidang teknologi berpengaruh pada bidang arsitektur. Teknologi membawa teknik-teknik baru dalam menciptakan material bangunan yang memiliki ketahanan lama, tahan terhadap cuaca yang berubah-ubah. Hal tersebut menyebabkan banyak masyarakat yang memilih menggunakan material yang tahan lama pada bangunan mereka, karena selain tahan lama, harganya juga lebih murah bila dibandingkan dengan menggunakan kayu.

Untitled7
Gambar 2.7 Material Rumah Limas Masa Kini Menggunakan Bahan yang Lebih Tahan Lama                                   Sumber : http://tinypic.com/view.php?pic=2cg27i0&s=7
Untitled8
Gambar 2.8 Rumah Limas yang Menggunakan Material Batu Alam Sebagai Dinding                                   Sumber : https://nalatrisudapradnyani.files.wordpress.com/2015/06/35f12-dsc_0521.jpg
Untitled9
Gambar 2.9 Penggunaan Genteng Metal Pada Rumah Limas                                                         Sumber : https://esont.files.wordpress.com/2010/12/rumah-adat-melayu5-f-yusuf.jpg?w=497&h=331
Untitled10
Gambar 2.10 Penggantian Material Sirap Menjadi Genteng pada Rumah Limas Sumber : https://nalatrisudapradnyani.files.wordpress.com/2015/06/7d009-lampung1.jpg
Rumah Limas masa kini mulai menggunakan beton sebagai pengganti kolom kayu, karena lebih kuat dan tahan lama. Batu bata menggantikan peran papan kayu sebagai dinding, serta penggunaan kaca pada bukaan-bukaan Rumah Limas. Atap sirap kayu digantikan dengan penggunaan genteng dan seng.
Sumber:http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/ [Tanggal download 03/02/2015]https://id-id.facebook.com/notes/wong-palembang-nian/rumah-limas-palembang-dan-sejarahnya/195397890476606 [Tanggal download 03/02/2015]

http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1004/rumah-limas-sumatera-selatan [Tanggal download 03/02/2015]

https://archnewsnusantara.wordpress.com/2009/08/09/rumah-limas-rumah-adat-palembang/ [Tanggal download 03/02/2015]

http://adewaych.blogspot.com/p/rumah-adat-limas.html [Tanggal download 03/02/2015]

 

SHARE 3

  1. SEJARAH PURA

Disebutkan tatkala masa pemerintahan Raja Erlangga di Jawa Timur (1019-1042 M), datanglah Mpu Kuturan ke Bali dari Jawa Timur. Di Bali beliau mengajarkan perihal membuat Parhyangan atau Kahyangan Dewa, baik yang disebut dengan Sad Kahyangan maupun Dang Kahyangan. Konsepsi yang diajarkan beliau lebih dikenal dengan konsepsi Gedong dan Meru. Bali pada saat itu diperintah oleh Raja Marakata yaitu adik Raja Erlangga.

Dalam jaman Bali Kuna dalam arti sebelum kedatangan Dinasti Dalem di Bali atau sebelum Bali ditaklukan oleh Majapahit (1343 M), istana raja bukan lagi disebut Karaton/Kadaton, melainkan disebut dengan istilah Pura, seperti :

  • Keraton Dalem di Samprangan, disebut Linggarsapura.
  • Keraton di Gelgel, disebut Swecapura.
  • Keraton di Klungkung, disebut Smarapura.

Sehingga penggunaan kata Pura, sebagai nama tempat suci, setelah Dinasti Dalem, berstana di Klungkung. Dalam hubungan ini kata Pura yang berarti istana raja atau keraton atau rumah pembesar, ketika itu dipakai istilah “Puri” dan kata “Pura” dipakai istilah tempat suci.

Selain Mpu Kuturan, ada pula tokoh lain yang banyak jasanya dalam hal Kahyangan atau Parhyangan, yaitu Danghyang Dwijendra, yang datang di Bali sekitar abad ke-15 – 16 pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550 M). Ajaran Danghyang Dwijendra dalam hubungannya dengan Kahyangan yaitu mengajarkan tentang pembuatan pelinggih Padmasana, yang mungkin sebelum jaman itu belumlah ada.

Istilah Pura sebagai istilah tempat suci, berasal dari jaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli, berupa pemujaan terhadap roh suci leluhur dan Kekuatan Yang Maha Besar yang telah dikenal pada jaman Neolithikum, sebelum kebudayaan India datang ke Indonesia. Salah satu tempat pemujaan roh leluhur pada waktu itu adalah berbentuk punden berundak-undak, yang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung, karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari leluhur atau alam arwah. Sistem pemujaan leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Perkembangannya itu mengalami proses akulturasi dan enkulturasi, sesuai dengan lingkungan budaya nusantara.

  1. PENGERTIAN PURA

Kata “Pura” sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali, istilah “Pura” menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah “Puri” menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Sebelum dipergunakannya kata pura untuk menamai tempat suci/tempat pemujaan dipergunakanlah kata kahyangan atau hyang. Pada jaman Bali Kuna dan merupakan data tertua ditemui di Bali, disebutkan di dalamn prasasti Sukawana A I tahun 882 M (Goris, 1964: 56).

Pura seperti halnya meru atau candi (dalam pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa) merupakan simbol dari kosmos atau alam sorga (kahyangan), seperti pula diungkapkan oleh Dr. Soekmono (1974: 242) pada akhir kesimpulan disertasinya yang menyatakan bahwa candi bukanlah sebagai makam, maka terbukalah suatu perspektif baru yang menempatkan candi dalam kedudukan yang semestinya (sebagai tempat pemujaan/pura). Secara sinkronis candi tidak lagi terpencil dari hasil-hasil seni bangunan lainnya yang sejenis dan sejaman, dan secara diakronis candi tidak lagi berdiri di luar garis rangkaian sejarah kebudayaan Indonesia. Kesimpulan Soekmono ini tentunya telah menghapus pandangan yang keliru selama ini yang memandang bahwa candi di Jawa ataupun pura di Bali sebagai tempat pemakaman para raja, melainkan sebagian pura di Bali adalah tempat suci untuk memuja leluhur yang sangat berjasa yang kini umum disebut padharman. Untuk mendukung bahwa pura atau tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat dilihat dari bentuk (struktur), relief, gambar dan ornament dari sebuah pura atau candi. Pada bangunan suci seperti candi di Jawa kita menyaksikan semua gambar, relief atau hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk sorga, seperti arca-arca devatà, vahana devatà, pohon-pohon sorga (parijata, dan lain-lain), juga mahluk-mahluk suci seperti Vidàdhara-Vidyàdharì dan Kinara-Kinarì, yakni seniman sorga, dan lain-lain.

  1. FILOSOFI PURA

Umat Hindu memiliki kepercayaan terhadap gunung sebagai alam suci tempat para arwah adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu, yang menganggap gunung (Mahameru), sebagai alam Dewata, yang merupakan konsepsi bahwa gunung selain alam arwah juga alam para Dewa. Maka untuk mencetuskan ide kepercayaan itu lalu dibuatlah pemujaan yang mencerminkan gunung.

Demikian pula dalam pembuatan bangunan suci, seperti : Sanggah Pamrajan maupun Pura, diletakkan di tempat yang lebih tinggi atau di tempat yang dianggap hulu, berkiblat ke gunung yang tertinggi dan paling dihormati. Yang dianggap hulu adalah arah timur (purwa) dan uttara (kaja). Kata ‘purwa‘ berarti di muka dan sering dihubungkan dengan terbitnya matahari. Sedangkan “uttara” di Bali disebut dengan kaja, yang berasal dari ka-aja,; ka = menuju; aja = gunung. Jadi Kaja (kaaja) berarti menuju gunung.

Tidak sembarangan tempat dapat dijadikan tempat untuk membangun pura, dalam tradisi Bali (termuat dalam beberapa lontar) menyatakan tanah yang layak dipakai adalah tanah yang berbau harum, yang “gingsih“dan tidak berbau busuk, sedangkan tempat-tempoat yang ideal untuk membangun pura, adalah seperti disebutkan pada kutipan dari Bhaviûya Puràóa dan Båhat Saýhità, yang secara sederhana disebut sebagai “hyang-hyangning sàgara-giri“, atau “sàgara-giri adumukha“, tempatnya tentu sangat indah disamping vibbrasi kesucian memancar pada lokasi yang ideal tersebut.

  1. FUNGI PURA

Pura adalah tempat suci umat Hindu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA) dan atau Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur) dengan sarana upacara yadnya sebagai perwujudan dari Tri Marga. Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Úiva dan Úakti dan Kekuatan/Prinsip Dasar dan segala Menifestasi atau Wujud-Nya, dari element hakekat yang pokok, Påthivì sampai kepada Úakti-Nya. Wujud konkrit (materi) Sang Hyang Úiva merupakan sthana Sang Hyang Vidhi. Hendaknya seseorang melakukan permenungan dan memuja-Nya)

  1. JENIS DAN PENGELOMPOKAN PURA

Pengelompokan pura dilakuakan ntuk meningkatkan pengertian dan kesadaran umat terhadap Pura sebagai tempat suci umat Hindu. Seain itu juga untuk menghindari adanya salah tafsir bahwa dengan adanya banyak Palinggih di suatu Pura, Agama Hindu dianggap polytheistic. Dasar yang menjadi pengelompokan pura yaitu

  • Tattwa Agama Hindu yang berpokok pangkal pada Konsepsi Ketuhanan : “Ekam sat wipra bahudha vadanti“, artinya Hanya satu Tuhan Yang Maha Esa orang arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Brahman Atman aikhyam artinya: Brahman dan Atman hakekatnya manunggal (Reg Weda).
  • Prabawa Hyang Widhi Wasa dan atau Atma Sidha Dewata yang dipuja di Pura tersebut. Panyiwi Pura tersebut, jagat dan warga

Berikut pengelompokan pura di Bali :

  • Berdasarkan fungsinya digolongkan menjadi dua kelompok:
    • Pura Jagat yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA).
    • Pura Kawitan yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur).
  • Berdasarkan karakterisasi digolongkan menjadi empat kelompok:

Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA) seperti Pura Sad Kahyangan, yaitu enam pura utama yang menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali. Masyarakat Bali pada umumnya menganggap pura-pura berikut sebagai Sad Kahyangan:

  • Pura Besakih di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung.
  • Pura Uluwatu di Kabupaten Badung.
  • Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
  • Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik) di Kabupaten Gianyar.
  • Pura Kahyangan Desa (territorial) yaitu Pura yang disungsung oleh Desa Adat.
  • Pura Swagina (Pura Fungsional) yaitu Pura yang penyiwinya terikat oleh ikatan swaginanya (Kekaryaannya) yang mempunyai profesi sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti Pura Subak, Pura Melanting dan yang sejenisnya.
  • Pura Kawitan yaitu Pura yang penyiwinya ditentukan oleh ikatan “wit” atau Leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogies), seperti Sanggah/ Merajan, Pretiwi, Ibu, Panti, Dadia, Batur, Dadia, Penataran Dadia, Dalem Dadia, Dadia, Pedharman dan yang sejenisnya.
  • Pura yang berfungsi khusus untuk menggelar beberapa ritual keagamaan Hindu dharma, sesuai penanggalan Bali.
  • Pura Kahyangan Jagad: pura yang terletak di daerah pegunungan. Dibangun di lereng gunung, pura ini sesuai dengan kepercayaan Hindu Bali yang memuliakan tempat yang tinggi sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan hyang.
  • Pura Segara: pura yang terletak di tepi laut. Pura ini penting untuk menggelar ritual khusus seperti upacara Melasti.
  • Pura Desa: pura yang terletak dalam kawasan desa atau perkotaan, berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Hindu dharma di Bali.

Pengelompokan pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut.

A) Pura Umum

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.

Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.

Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.

B) Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.

C) Pura Fungsional

Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

D) Pura Kawitan

Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin.

  1. SUSUNAN LETAK PURA

Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa lingkungan yang dikelilingi tembok. Masing-masing lingkungan ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh ukiran indah. Lingkungan yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam Hyang Widi, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (sejenis pendopo atau paviliun).

Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian atau disebut konsep Trimandala, yaitu: jabapura atau jaba pisan (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. Pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuwana agung), yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari “triloka“, yaitu: bhùrloka (bumi), bhuvaáloka (langit) dan svaáloka (sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaá) dan alam bawah (adhaá), yaitu àkàsa dan påtivì.

Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan “saptaloka” yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas, yang terdiri dari: bhùrloka, bhuvaáloka, svaáloka, mahàoka, janaloka, tapaloka dan satyaloka. Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari “ekabhuvana”, yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan “prakåti” (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis “purusa” (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi prakåti dengan puruûa dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada “Super natural power“. Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa) dalam sebuah pura.

Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker) scbagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah “paduraksa” (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpàlaka ).

Berikut merupakan pembagian dari Trimandala dan pengertiannya :

  • Nista Mandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar. Setiap orang dapat memasuki bagian ini. Bagian ini merupakan bagian Nista atau kotor. Pada zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan. Bangunan yang terdapat pada mandala ini diantaranya Bale Kulkul, sebagai tempat kentongan digantung, Bale Wantilan, yaitu balai tempat pementasan kesenian yang diadakan di dalam pura, kemudian Bale Pawaregan yaitu bangunan yang digunakan sebagai dapur tempat sesaji dibuat, dan Lumbung yaitu bangunan yang digunakan untuk menyimpan beras.
  • Madya Mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada bagian ini umat Hindu sudah mulai terfokus untuk menghadap Sang Hyang Widi Wasa. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, Perantenan, Bale Agung (Balai Panjang), Bale Pagongan (Balai tempat gamelan), selain itu juga terdapat Bale Panyimpenan (ruangan tempat menyimpan barang-barang berharga Pura) biasanya di atas pintu masuk bale panyimpenan terdapat karang Bhoma,yang berfungsi untuk menjaga barang-barang yang berada dalam ruangan tersebut.
  • Utama Mandala (Jero): Utama Mandala atau jeroan adalah bagian terdalam dan tersuci/tersakral dari sebuah Pura. Pada bagian Utama ini, umat diharuskan benar-benar fokus untuk menghadap Sang Hyang Widhi dengan meningggalkan nafsu keduniawiannya. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana untuk menstanakan Sang Hyang Widhi (sebagai Trimurthi atau Tripurusa) atau pelinggih-pelinggih lain untuk pemujaan roh leluhur, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, bangunan Panglurah (bangunan yang menempatkan pangawal Sang Hyang Widhi), Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan. Untuk memasuki jeroan, umat Hindu satu persatu masuk melalui pintu pada Kori Agung yang dijaga oleh Karang Bhoma. Biasanya jika tidak ada upacara keagamaan, umat Hindu memasuki jeroan lewat bebetelan.

Meskipun demikian tata letak untuk zona Nista mandala dan Madya mandala kadang tidak mutlak seperti demikian, karena beberapa bangunan seperti Bale Kulkul, atau Perantenan atau dapur pura dapat pula terletak di Nista mandala.

Pada aturan zona tata letak pura maupun puri (istana) di Bali, baik gerbang Candi bentar maupun Paduraksa merupakan satu kesatuan rancang arsitektur. Candi bentar merupakan gerbang untuk lingkungan terluar yang membatasi kawasan luar pura dengan Nista mandala zona terluar kompleks pura. Sedangkan gerbang Kori Agung atau Paduraksa digunakan sebagai gerbang di lingkungan dalam pura, dan digunakan untuk membatasi zona Madya mandala dengan Utama mandala sebagai kawasan tersuci pura Bali. Maka disimpulkan baik untuk kompleks pura maupun tempat tinggal bangsawan, candi bentar digunakan untuk lingkungan terluar, sedangkan paduraksa untuk lingkungan dalam.

 

  1. MAKNA BANGUNAN YANG TERLETAK DI DALAM PURA         A. Candi Bentar

Candi Bentar merupakan pintu masuk yang membatasi antara bagian Nista Mandala dengan bagian luar Pura. Candi Bentar dianggap sebagai perwujudan dari pangkal gunung Maha Meru, oleh karena itu dianggap kurang sakral daripada Kori Agung. Biasanya area sirkulasi dari candi bentar dibuat lebar. Hal ini dimaksudkan agar para umat Hindu datang dengan leluasa. Candi Bentar juga merupakan pintu masuk yang membatasi Nista Mandala dengan Madya Mandala, biasanya area sirkulasinya sama dengan Candi Bentar sebelumnya yang membatasi antara Nista Mandala dengan bagian luar Pura. Ruangan/pintu candi bentar dibuat agak lebar,dimaksudkan agar umat dapat lebih banyak masuk jaba tengah sekaligus. Juga mengandung arti umat boleh dengan leluasa keluar masuk dari jaba sisi ke jaba tengah atau sebaliknya. Bangunan ini merupakan sebagai pintu masuk penyaring atau penanda dimana setelah melewati pintu masuk ini, umat Hindu sudah mulai melepaskan keduniawiannya.

 

B. Kori Agung

Merupakan pintu masuk dan batas wilayah antara jaba tengah (Madya Mandala) dengan jeroan (Utama Mandala). Ruang/pintu tempat masuk sengaja dibuat kecil, hanya cukup untuk satu orang. Diatasnya terdapat ornament berupa karang Boma, dan dijaga oleh dua buah patung Dwara Pala. Hal ini mengandung pengertian untuk masuk jeroan (Utama Mandala), tidak setiap orang bebas leluasa melainkan masuk satu persatu,maksudnya agar mereka yang masuk ke dalam jeroan atau (Utama Mandala) benar-benar orang yang satu antara bayu (tenaganya), Sabha (perkataannya), Idep (pikirannya), dan bulat tertuju hanya untuk memuja Tuhan.

C. Padmasana

Padmasana yang dikembangkan oleh Danghyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Ia seorang sastrawan Majapahit sekaligus pendeta yang memperkenalkan arsitektur pura. Beliau datang ke Bali untuk menyebarkan agama Hindu Siwa Sidhanta pada abad ke-15 ketika kekuasaan kerajaan Majapahit mulai memudar.

Ajarannya yang pertama adalah mendirikan padmasana di setiap komplek pura maupun pamerajan sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa. Pembangunan padmasana ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan persepsi masyarakat terhadap Sang Hyang Widhi. Sebelumnya masyarakat Bali membuat pelinggih dari bambu atau pohon pinang yang tidak permanen dan biasanya dicabut kembali setelah upacara selesai.

Hal tersebut menyababkan timbulnya pura-pura fungsional yaitu pura yang memiliki fungsi khusus, sebagai contoh : Pura Ulun Siwi untuk menyembah-Nya sebagai penguasa kemakmuran, Pura Melanting untuk menyembah-Nya sebagai penguasa pasar dan sebagainya. Timbulnya pura-pura tersebut menyebabkan persepsi bahwa Tuhan itu banyak. Maka Danghyang Nirartha menganjurkan pendirian padmasana untuk memperbaiki persepsi yang salah tersebut.

Sebutan Padmasana berasal dari kata Padma yang berarti bunga Teratai, dan Asana berarti sikap yang terbaik dalam memuja. Teratai/Padma adalah salah satu simbol kesucian dalam agama Hindu, karena bunga Teratai ini dianggap dapat bertahan hidup walaupun hidup dalam lumpur, tidak sedikitpun lumpur yang menempel pada bunganya. Dengan tidak adanya kotoran yang melekat ini merupakan simbol bahwa kesucian itu akan bebas dari segala kemelekatan atau noda.

Pada bagian kepala/sari terdapat Singghasana seperti kursi yang diapit oleh naga tatsaka. Pada bagian belakangnya terdapat ulon yang bagian tengahnya terdapat ukiran lukisan Sang Hyang Acintya sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widhi. Lukisan ini menggambarkan sikap tari dari dewa Siwa yang disebut dengan Siwa Natyaraja dalam menciptakan alam semesta.

Sebenarnya posisi Padmasana adalah sikap duduk bersila dengan kedua telapak kaki dilipat ke atas, sehingga tampak seperti posisi yang berbentuk lingkaran. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang terlihat di lapangan bahwa pada puncak padmasana terdapat Singghasana yang berupa kursi berkaki empat. Jadi nama Padmasana sebenarnya digunakan karena isi dari pedagingan yang ditanamkan pada puncak bangunan tersebut berupa padma yang terbuat dari emas. Sedangkan pada padmasana yang menggunakan Bhedawang Nala, pedagingan berjumlah tiga buah, yang ditanamkan pada dasar, tengah, dan puncak.

Fungsi utama padmasana adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Widhi Wasa sehingga tidak ada padmasana yang dijadikan sebagai pemujaan roh leluhur. Pelinggih padmasana adalah simbol stana Sang Hyang Widhi dengan berbagai sebutan, yaitu Sanghyang Siwa Raditya, dalam manifestasi yang terlihat atau dirasakan manusia sebagai matahari atau surya dan Sanghyang Tri Purusa dalam tiga manifestasi yaitu sebagai Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa. Oleh karena itu, padmasana merupakan pelinggih yang digunakan oleh umat Hindu sekte Siwa Sidhanta karena sentral manifestasi Hyang Widhi yang menjadi pujaan utama adalah sebagai Siwa.

Berdasarkan tata letak, padmasana dibedakan berdasarkan arah mata angin, yang terbagi menjadi sembilan jenis, yaitu :

  • Padma Kencana, di timur (purwa) menghadap ke barat (pascima)
  • Padmasana, di selatan (daksina) menghadap ke utara (uttara)
  • Padmasari, di barat (pascima) menghadap ke timur (purwa)
  • Padma Lingga, di utara (uttara) menghadap ke selatan (daksina)
  • Padma Asta Sedhana, di tenggara (agneya) menghadap ke barat laut (wayaba)
  • Padma Noja, di barat daya (nairity) menghadap ke timur laut (airsaniya)
  • Padma Karo, di barat laut (wayabya) menghadap ke tenggara (agneya)
  • Padma Saji, di timur laut (airsanya) menghadap ke barat daya (nairity)
  • Padma Kurung, di tengah-tengah pura (madya) menghadap ke pintu masuk/keluar (pemedal)

Pemilihan letak padmasana berdasarkan pertimbangan letak pura dan konsep hulu-teben. Dikarenakan manusia sulit membayangkan Hyang Widhi, maka Hyang Widhi dianggap seperti organ tubuh manusia yaitu memiliki kepala, badan, dan kaki. Kepala dikatakan sebagai hulu, badan sebagai madya dan kaki sebagai teben. Yang utama selalu berada di hulu. Hal tersebut mempengaruhi pembagian mandala pada pura yang dibagi menjadi bagian nista, madya, utama. Hulu teben memakai dua acuan yaitu timur sebagai hulu dan barat sebagai teben, atau gunung sebagai hulu dan laut sebagai teben.

Sedangkan berdasarkan bentuk pepalihan (undakan) dan rong (ruang) bangunan padmasana terdiri dari :

  • Padma Anglayang, bangunan padmasana yang memakai Bhedawang Nala, bertingkat tujuh / berpalih tujuh dan di puncaknya terdapat tiga ruang. Digunakan selain sebagai tempat distanakannya Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa, juga Trimurti
  • Padma Agung, memakai dasar Bhedawang Nala, bertingkat lima/ berpalih lima dan di puncaknya terdapat dua ruang. Dipakai sebagai tempat distanakannya Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa, juga stana Ardanareswari yaitu kekuatan/kesaktian Hyang Widhi sebagai pencipta segala yang berbeda misalnya, lelaki-perempuan, siang-malam, kiri-kanan dan seterusnya.
  • Padmasana, memakai dasar Bhedawang Nala, bertingkat lima/ berpalih lima dan di puncaknya terdapat satu ruang. Digunakan selain sebagai stana Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa, juga sebagai stana Sang Hyang Tunggal yaitu Hyang Widhi/ Yang Maha Esa.
  • Padmasari, tidak memakai dasar Bhedawang Nala, bertingkat/ berpalih tiga dan di puncaknya terdapat satu ruang. Digunakan hanya untuk stana Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa.
  • Padma Capah, tidak memakai dasar Bhedawang Nala bertingkat/berpalih dua dan di puncaknya terdapat satu ruang. Digunakan sebagai Baruna (Dewa Lautan)                                                                                                                                                                                                          D. Gedong

Bentuknya serupa dengan tugu hanya bagian kepalanya terbuat dari konstruksi kayu, atapnya alang-alang, ijuk atau bahan-bahan penutup lain mengikut bentuk dan fungsinya. Bagian badan dan kaki, pasangan batu halus tanpa atau sedikit perekat siar-siar pasangan. Denah bujur sangkar dengan ukuran sisi dasar sekitar 1m dan tinggi sekitar 3m.

Fungsi Gedong beragam sesuai dengan tempatnya di pamrajan, pura, kahyangan atau dilain tempat tertentu. Tata letak gedong, bentuk konstruksi atap dan ketentuan lain mengikut fungsi gedong tersebut. Pemakaian bahan, penyelesaian konstruksi dan hiasannya sesuai dengan tingkatan utama, madya dan sederhana dari suatu pura yang ditempatinya.

Terdapat juga gedong kembar dengan dua ruangan dan gedong tiga ruangan atau rong telu untuk kemulan di sanggah atau pamerajan. Gedong dengan atap bertumpang disebut gedong sari untuk kahyangan jagat dari suatu pura tertentu.Dasar ukuran gedong, proporsi berbaturan dan rangka ruangnya didasarkan pada ketentuan tradisional. Bentuk penyelesaian, bagian-bagian dan hiasannya bervarisi mengikuti kreasi logika dan estetika perancangnya.

E. Meru

Bentuk Meru menonjolkan keindahan atap bertingkat-tingkat yang disebut atap tumpang. Jumlah tumpang atap selalu ganjil, yaitu tumpang 3, 5, 7, 9, dan tumpang 11 yang tertinggi. Keindahan banguanan meru timbul dari ketepatan proporsi, teknik konstruksi dan hiasannya. Tata letak meru di suatu pura adalah di halaman jeroan bagian utara. Meru umunya menghadap kearah barat di sisi timur sebagai tempat pemujaan utama. Menurut mitologi Hindu, Meru merupakan nama sebuah gunung di Sorgaloka. Salah satu puncaknya disebut Kailasa, yang merupakan tempat bersemayamnya Bhatara Siwa. Gunung tersebut lalu diturunkan ke dunia menjadi gunung Himalaya di India, Gunung Mahameru di Jawa, dan gunung Agung di Bali.

F. Pelinggih-pelinggih Runtutan

Meru, Padmasana, Gedong dan Kemulan merupakan bangunan-bangunan pelinggih tempat pemujaan utama. Untuk bangunan pelengkap dengan fungsi tertentu di suatu Pura atau Pamerajan dibuat bangunan-bangunan runtutan sebagai berikut :

  • Tajuk atau pepelik ; bentuk dan konstruksinya serupa bangunan gedong terbuka tiga sisi ke depan dan sisi samping. Fungsinya untuk penyajian sarana dan perlengkapan upacara.
  • Bangunan dan paliangan ; bentuk dan konstruksinya serupa dengan gedong, sedikit lebih besar dan ada yang memakai tiang jajar. Fungsinya untuk menstanakan symbol-simbol dan saran upacara.
  • Taksu nenggeng ; semacam gedong bertiang satu dan taksu nyangkil semacam gedong ruang dua empat tiang, dua tiang gantung di tepi kanan.
  • Manjangan salu wang ; Serupa dengan gedong, terbuka tiga sisi, didepan memakai tiang tengah dengan kepala manjangan.
  • Gedong Mas Catu dan Mas Sari ; bentuk dan konstruksinya sama dengan gedong. Mas Catu puncak atapnya tumpul dan Mas Sari puncaknya kerucup lancip. Fungsinya untuk tempat pemujaan Sri Sedana, harta kekayaan untuk kesejahteraan.
  • Gedong Agung, Gedong Ibu dan Gedong Batu ; bangunan gedong besar dengan dinding batu berhias ornament pepalihan. Fungsinya tempat pemujaan leluhur di sanggah dan pamerajan. Terdapat juga di Pura Kahyangan Tiga.
  • Selain bangunan-bangunan itu terdapat juga bangunan-bangunan yang digunakan sebagai pelengkap upacara, yaitu ;
  • Bale Piyasan :sebuah bangunan tipe sakepat, sakenem, astasari, atau sakaroras sesuai dengan besarnya tingkatan pura. Fungsinya untuk tempat penyajian sarana-sarana upacara. Terbuka pada keempat sisinya. Letaknya di sisi barat halaman atau sisi lain menghadap meru, gedong atau padmasana. Atap dari alang-alang dan bahannya dari klas khusus untuk bangunan pemujaan.
  • Bale Pawedaan : bangunan sakepat atau lebih besar, letaknya di sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan. Bale Pawedaan dibangun di pura-pura besar yang sering menyelenggarakan upacara tingkat utama.
  • Pewaregan Suci, letaknya di Jaba tengah atau jaba sisi. Bentuk bangunannya memanjang deretan tiang dua-dua,luas bangunan tergantung keperluan dari besarnya suatu pura. Fungsi bangunan untuk dapur mempersiapkan keperluan sajian upacara di Pura yang jauh dari desatempat pemukiman.
  • Bale Gong, terletak di jaba tengah atau jaba sisi, bangunan tanpa balai-balai jajaran tiang tepi tanpa tiang tengah. Fungsi bangunan untuk tempat menabuh gamelan gong atau gamelan lainnya.
  • Bale Kul-kul, letaknya di sudut depan pekarangan pura. Fungsinya untuk tempat kulkul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu pada upacara.
  • Penggunaan, letaknya dibagian selatan menghadap ke utara atau jabaan. Bentuk bengunan sederhana, fungsinya untuk tempat penyajian banten upacara.

SUMBER :

http://www.babadbali.com/canangsari/tafsir_src.htm

http://www.komangputra.com/stuktur-makna-pura-di-bali-berdasarkan-asta-kosala-kosali.html

http://agussuteja.blogspot.com/2008/10/pengertian-dan-fungsi-pura.html

https://singaraja.wordpress.com/2008/04/11/pengertian-dan-fungsi-pura/

https://panbelog.wordpress.com/2014/02/10/pengertian-pura/

http://id.wikipedia.org/wiki/Pura

 

 

SHARE 2

Arsitektur Istana Cipanas

Istana Cipanas memiliki luas kompleks mencapai 26 hektare dengan Gedung Induk kurang lebih seluas 900m2 yang ukurannya paling besar diantara gedung lainnya, berfungsi sebagai tempat peristirahatan Presiden dan keluarganya. Selain bangunan induk, terdapat 22 bangunan lain yang jika dijumlahkan mencapai luas 7.760m2, dengan fungsi yang berbeda-beda dantaranya kantor dan penginapan.

Arsitektur Istana Cipanas lebih banyak mengadopsi Arsitektur Eropa khususnya Belanda. Dimana dapat dilihat penempatan bangunan yang terpisah-pisah membentuk Paviliun-Paviliun yang mengitari bangunan induk. Terdapat satu bangunan induk, enam buah pavilion, satu bangunan khusus, satu buah penampungan air panas dan satu buah masjid. Bangunan induk merupakan tempat peristirahatan presiden atau wakil presiden dan keluarganya, terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang rias, ruang kerja dan ruang makan. Tidak ketinggalan bangunan utama memiliki lorong-lorong yang menjadi ciri khas bangunan Belanda. Bangunan istana cipanas memiliki gaya arsitektur eropa yang telah menyesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia.

Untitled 2

Gambar : Suasana Depan Istana Cipanas                                                                             Sumber : http://www.gurusejarah.com/2013/03/profil-itana-cipanas.html

Tiang-tiang yang berjejer di depan istana induk berbeda dari gedung-gedung colonial pada umumnya yang memiliki tiang besar yang terlihat kokoh, melainkan tiang pada istana cipanas memiliki bentuk yang tidak terlalu besar dengan pahatan-pahatan ornament khas Eropa. Tiang pada bagian depan memiliki konsol dengan pola ornament renda khas Eropa. Tiang-tiang yang berjajar memberi kesan tegas dan kokoh pada bangunan ditambah anak tangga pada bagian depan sebagai ciri khas arsitektur Eropa. Terdapat jendela yang tinggi dan besar setra berjajar rapi dengan pola ornament renda di bagian atasnya. Dengan bangunan didominasi warna khas putih yang merupakan warna khas bangunan colonial. Lantainya menggunakan bahan batu marmer. Pada bagian ventilasi di atas lendela terdapat pola-pola renda klasik terukir pada kayu yang merupakan ciri khas arsitektur Eropa.

Pada bagian interior tatanan furniturenya masih menggunakan furniture yang lama, dengan gaya furniture klasik ditambah dengan lampu kristal yang menggantung di langit-langit semakin menguatkan nuansa Eropa pada jaman colonial Belanda. Bagian interior memiliki langit-langit yang tinggi dengan ornament renda pada dinding bagian atas. Pintu yang tinggi dengan gaya jaluzi double swing. Bagian interior tetap menggunakan warna dominan putih dilengkapi dengan perapian semakin menambah kesan arsitektur Eropa.

Untitled 1

Gambar : Ruang Tamu Gedung Utama Istana Cipanas                             Sumber : http://www.gurusejarah.com/2013/03/profil-itana-cipanas.html

Untitled 3

Gambar : Ruang Pemandian Air Panas di Istana Cipanas                           Sumber : http://www.gurusejarah.com/2013/03/profil-itana-cipanas.html

Sumber :

http://wisatacipanas.blogspot.com/2013/02/sejarh-istana-cipanas-cianjur.html

http://www.gurusejarah.com/2013/03/profil-itana-cipanas.html

 

SHARE 1

RUMAH ADAT PROVINSI SUMATERA SELATAN (SUMSEL)

RUMAH LIMAS rumah

Gambar: Rumah Limas                                                                                 Sumber : https:https://www.google.com/search?q=rumah+limas&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=ggPzVImOPIyWuASuiYDIBw&ved=0CB0QsAQ&biw=1366&bih=694#tbm

Rumah limas merupakan rumah adat provinsi Sumatera Seatan. Rumah Limas berasal dari dua suku kata yaitu Lima dan Emas. Bentuk rumah limas sama seperti namanya yaitu berbentuk menyerupai piramida terpenggal (limasan). Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan, yaitu rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda / bertingkat-tingkat. Bangunan rumah limas bertingkat-tingkat dengan filosofi tersendiri di setiap tingkatannya. Tingkatan tersebut disebut dengan bengkilas. Rumah limas yang kedua dengan lantai sejajar, rumah limas dengan lantai sejajar biasanya disebut rumah ulu. Rumah limas umumnya sangat luas berkisar antara 400 – 1000 m2 dan biasanya dijadikan tempat untuk acara adat. Nilai-nilai budaya Palembang juga dapat dilihat dan dirasakan dari ornamen ukiran yang terdapat pada pintu dan dindingnya. RumahLimas dibangun diatas tiang-tiang atau cagak, sehingga bentuk rumah limas menyerupai rumah panggung yang mengadaptasi pada keadaan geografis Palembang yang sebagian besar terdiri dari perairan.

  • Filosofi dan Arti-arti dari Rumah Limas

Berbagai filosofi mendasari bentuk-bentuk pada rumah limas diantaranya selain berbentuk limas, rumah tradisional Sumatera Selatan ini juga tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang dipancang hingga ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing, merupakan simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat, yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat. Detail di setiap tingkatnya pun berbeda-beda.

Bangunan rumah limas biasanya berbentuk persegi panjang yang memanjang kearah belakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Arah orientasi Rumah Limas ke timur dan barat atau dalam falsafah disebut menghadap ke arah Matoari Eedoop dan Mato Ari Mati. Arti dari kata Matoari Eedoop adalah matahari terbit yang memiliki makna filosofi “awal mula kehidupan manusia” dan Mato Ari Mati matahari tenggelam yang memiliki makna filosofi “akhir kehidupan manusia atau kematian”. Secara tidak langsung Rumah Limas menggambarkan siklus kehidupan manusia dari ahir hingga meninggal. Jika dilihat dari tata letak ruang penandaan arah tersebut menunjukkan adanya pembagian bangunan depan dan belakang. Di bagian depan terdapat ruang penerima tamu dengan dinding yang memilliki bukaan luas dengan adanya jendela-jendela yang berjajar. Ruang utama yang berada di tengah rumah disebut dengan ’Ruang Gajah’. Ruang gajah adalah tempat yang paling dihormati, posisinya dibatasi dengan tiang-tiang utama yang disebut dengan ’Sako Sunan’. Kamar-kamar tidur terletak di sisi kiri dan kanan berhubungan dengan dinding luar, sedangkan bagian belakang rumah berfungsi sebagai dapur.

Denah-Rumah-Limas

Gambar: Bentuk dan Denah Rumah Limas                                                                                                                                                     Sumber: http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/ 

Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang atau cagak yang terbuat dari jenis kayu Unglen yang berjumlah 32 buah atau kelipatannya. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolong rumahnya dimanfaatkan sebagai tempat untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian dari lantai panggung dapat mencapai 3 meter. Untuk masuk ke dalam Rumah Limas dibuatlah dua buah tangga kayu yang dapat dinaiki dari sisi kiri dan kanan. Bagian teras rumah umumnya dikelilingi oleh pagar kayu berjeruji yang disebut Tenggalung. Makna filosofis dari pagar kayu tersebut adalah untuk melindungi dan menahan agar anak perempuan atau anak gadis tidak keluar rumah.

Pada tingkat pertama yang disebut Pagar Tenggalung, merupakan teras terendah yang bagian dinding ruangannya dihiasi dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tak jarang, pemilik menggunakan timah dan emas di bagian ukiran dan lampu- lampu gantung antik sebagai aksesori. Ruang pada tingkat pertama tidak memiliki dinding pembatas, terhampar seperti beranda saja. Suasana di tingkat pertama lebih santai dan biasa berfungsi sebagai tempat menerima tamu saat acara adat. Naik pada ruang kedua disebut Jogan, digunakan sebagai tempat berkumpul khusus untuk pria memiliki enam pintu dibentangi karpet hijau. Naik lagi pada ruang ketiga yang diberi nama Kekijing Ketiga, posisi lantai tentunya lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Ruangan ini biasanya untuk tempat menerima para undangan dalam suatu acara atau hajatan, terutama untuk undangan atau tamu dan kerabat yang sudah separuh baya. Kemudian ruangan keempat yang disebut Kekijing Keempat, yang memiliki posisi lebih tinggi lagi. Begitu juga dengan orang-orang yang dipersilakan untuk berada di ruangan ini pun memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati oleh pemilik rumah, seperti undangan yang lebih tua, Dapunto dan Datuk. Ruang kelima yang memiliki ukuran terluas disebut Gegajah. Didalamnya terdapat ruang Pangkeng, Amben Tetuo, dan Amben Keluarga. Amben adalah sebutan untuk balai musyawarah. Amben Tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga menjadi tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan. Dibandingkan dengan ruang lainnya, Gegajah adalah yang paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi. Begitulah setiap ruang dan tingkatan Rumah Limas yang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Pangkeng Penganten, (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui Dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Berikutnya adalah ruang Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren adalah kamar anak perempuan, Pangkeng Keputran adalah kamar anak laki-laki, Ruang Keluarga, dan Ruang Anak Menantu. Semetara pada bagian belakang terdiri dari Dapur atau pawon, Ruang Pelimpahan, dan Ruang Hias/Toilet. Pembagian ruang secara fisik berfungsi batasan aktivitas yang berlangsung di rumah berdasarkan tingkat keprivasiannya.

Tingkat atau kijing yang dimiliki Rumah Limas menandakan garis keturunan asli masyarakat Palembang. Dalam kebudayaannya, dikenal tiga jenis garis keturunan atau kedudukan seseorang, yaitu Kiagus, Kemas atau Massagus, serta Raden. Tingkatan atau undakannya pun demikian. Yang terendah adalah tempat berkumpul golongan Kiagus. Selanjutnya, yang kedua diisi oleh garis keturunan Kemas atau Massagus. Kemudian yang ketiga, diperuntukkan bagi golongan tertinggi yaitu kaum Raden. Besar Rumah Limas melambangkan status sosial dari pemilik rumah, semakin besar rumahnya maka semakin tinggi status sosialnya. Rumah Limas yang besar biasanya pemiliknya adalah keturunan keluarga Kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan Hindia Belanda, atau saudagar kaya.

Hiasan atau ukiran yang ada di dalam Rumah Limas pun memiliki simbol-simbol tertentu. Jika dilihat dengan seksama ke dalamnya, akan terlihat ornamen simbar atau tanduk pada bagian atas atap. Simbar dengan hiasan Melati melambangkan mahkota yang bermakna kerukunan dan keagungan rumah adat ini. Tanduk yang menghiasi atap juga bermakna tertentu sesuai dengan jumlahnya.

Secara personal, sikap pribadi masyarakat Palembang menjunjung tinggi kehormatan laki-laki dan wanita. Dan secara sosial, menunjang citra diri kebudayaan Palembang yaitu dengan menjunjung tinggi norma-norma adat yang berlaku di masyarakat. Bentuk rumah yang luas merupakan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat Palembang yang menjunjung tinggi sifat kebersamaan dalam bentuk gotong royong.

Sedangkan dengan bentuk ruang dan lantai berkijing-kijing pada rumah Limas, manandakan bahwa rumah limas memiliki tata aturan sosial yang rapi dan sangat ketat untuk ditaati. Tempat duduk para tetamu pada saat adanya acara adat pada Rumah Limas seolah sudah ditentukan berdasarkan status tamu tersebut. Para ulama, pemuka masyarakat, saudagar duduknya pada tempat kijing yang tinggi sedangkan yang lain menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Apabila dilanggar maka orang tersebut menjadi kaku dengan suasana, karena rasa segan/canggung ataupun rasa takut dan malu.

  • Bahan Baku Pembentuk Rumah Limas

Bahan material dalam membuat dinding, lantai, serta pintu menggunakan kayu Tembesu. Bagian dinding juga bisa terbuat dari kayu Merawan. Kayu yang berbentuk papan (persegi panjang) disusun tegak untuk dinding dan disusun horizontal menurut besaran masing-masing ruang untuk lantai. Sementara untuk tiang rumah, pada umumnya menggunakan kayu Unglen atau Merbau yang tahan air. Berbeda dengan rangka atap rumah yang terbuat dari kayu Seru. Kayu ini cukup langka. Kayu ini sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah Rumah Limas, sebab kayu Seru dalam kebudayaannya dilarang untuk diinjak atau dilangkahi. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua undak-undakan kayu dari sebelah kiri dan kanan.

  • Proses Pembangunan Rumah Limas

Pembangunan Rumah Limas Palembang dimulai dengan upacara yang diadakan oleh keluarga dari orang yang akan membangun. Upacara mendirikan rumah ini dilakukan dengan menyembelih hewan ternak seperti ayam atau kambing, dengan mengajak tetangga sekitarnya. Dalam upacara dilakukan doa-doa dan dilanjutkan dengan pertemuan untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pendirian rumah. Sebagai penutup upacara diadakan acara makan bersama.

Pengumpulan bahan bangunan biasanya sudah disiapkan terlebih dahulu sebelum atau sesudah upacara. Jika diperkirakan bahan bangunan tersebut cukup, maka yang berupa kayu harus direndam dalam air mengalir sampai enam bulan. Sampai pada waktu pembangunannya, bahan tersebut dikeringkan dan dipilih sesuai dengan elemen konstruksi yang akan digunakan. Sebelum memulai konstruksi diadakan upacara pendirian tiang dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi. Upacara ini dengan mengundang seluruh tenaga kerja pembangunan rumah besarta masyarakat sekitarnya.

Masyarakat Palembang memilih hari Senin sebagai hari baik dalam memulai pembangunan rumah. Tempat yang terbaik bagi pendirian rumah adalah lokasi yang dekat dengan sungai. Untuk mendirikan rumah, masyarakat menggunakan tenaga perancang yang memiliki pengetahuan dan adat membangun rumah. Tenaga ini biasanya memiliki ilmu turun-temurun sebagai ahli dalam bangunan tradisional. Mereka bukan hanya mengetahui sistem struktur konstruksi dan detail rumah, namun juga bisa memilih bahan bangunan/kayu yang baik.

Tahap pertama dari pembangunan rumah limas Palembang dilakukan dengan menggali tanah terlebih dahulu. Yang pertama kali dipasang adalah tiang tengah (Sako Sunan), yang dirangkai dengan balok2 penguatnya, kemudian baru memasang tiang-tiang lain dan merangkainya dengan balok lain pula. Pemasangan tiang-tiang ini berurutan dengan proses penggalian dan pengurugan tanah kembali.

Pekerjaan struktur ini dilanjutkan dengan pemasangan kuda-kuda dan kerangka atap sampai dengan penyelesaian konstruksi atap beserta penutupnya. Setelah bangunan memiliki atap, barulah dibuat elemen konstruksi lantai dan dinding. Sebelum memasang rerangka atap diadakan upacara naik atap. Demikian pula jika seluruh bagian rumah telah selesai, sebelum ditempati juga diadakan upacara yang bernama ’Nunggu Rumah’.

http://www.gosumatra.com/rumah-limas-sumatera-selatan/

https://id-id.facebook.com/notes/wong-palembang-nian/rumah-limas-palembang-dan-sejarahnya/195397890476606

http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1004/rumah-limas-sumatera-selatan

https://archnewsnusantara.wordpress.com/2009/08/09/rumah-limas-rumah-adat-palembang/

http://adewaych.blogspot.com/p/rumah-adat-limas.html

http://rumahadat.blog.com/2012/06/23/rumah-adat-palembang/